Rabu, 12 November 2014

GOYANG KARAWANG, ANTARA EROTISME, KHASANAH BUDAYA KARAWANG DAN REVOLUSI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA


Ini adalah versi lebih lengkap dari artikel yang saya kirim sebelumnya. Saya yakin, ini akan membuka paradigma berpikir kita. Terutama dalam memahami fenomena-fenomena dari idiom-idiom yang bertendensi negatif seputar kesenian lokal di sekitar kita.
Artikel ini disusun berdasarkan penelusuran saya pada malam hari tanggal 31 Desember 2013, sampai dini hari tanggal 1 Januari 2014.
Semoga bermanfaat.
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar.
Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah. Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian.
Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).
Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.
Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan.
Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.
PENELUSURAN
Dari hasil penelusuran di Karawang, ditemukan pemaknaan yang lebih dalam lagi tentang GOYANG KARAWANG. Berawal dari seni tari TOPENG BANJET, kemudian banyak gerakan tarian yang indah, energik dan ritmik yang diadaptasikan ke berbagai gerakan tari yang ada sekarang ini.
TOPENG BANJET adalah kesenian yang memadukan unsur tarian, komedi dan sandiwara dalam satu kemasan. Diiringi oleh music tradisional, seni ini begitu popular selama masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Masa itu, nyaris tidak ada kesenian yang bisa menggantikan TOPENG BANJET di pesisir utara Jawa Barat, terutama Karawang. Pasalnya media masa saat itu sangat terbatas. Masyarakat tidak memiliki akses untuk menikmati hiburan seperti tonil, bioskop dan drama yang digelar di gedung-gedung kesenian besar di Kota. Masyarakat juga tidak mungkin menghabiskan waktu bepergian untuk mencapai gedung kesenian itu yang notabene berada di Kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta.
TOPENG BANJET adalah jawaban atas kebutuhan hiburan massa saat itu. Pertama dipagelarkan secara besar-besaran. Kedua tidak da pengorbanan untuk menikmatinya. Ketiga secara kultur sangat dekat dengan masyarakat Karawang. Kesenian ini erat kaitannya dengan kultur agraris, di mana kebiasaan aktivitas rakyat untuk bertani di siang hari dan istirahat sejak memasuki senja. Maka kesenian ini digelar kebanyakan pada malam hari.
TOPENG BANJET kemudian menjadi begitu mengemuka saat memasuki era REVOLUSI KEMERDEKAAN. Pertama dengan kesenian ini masyarakat bisa berkumpul. Dengan berkumpul ada transfer informasi. Dengan begitu memudahkan dalam transfer pemikiran. Dengan kekuatan daya pikatnya, dalam waktu relative singkat, kesian ini ikut menyuburkan semangat pembangunan berkat penghiburannya pada masyarakat. Secara tidak disadari, psikologi masyarakat akan semangat kerja terbangun, karena ada estimasi waktu bagi mereka untuk menikmati hiburan Cuma-Cuma.
Pada akhirnya topeng banjet ini terus dikembangkan dan diadaptasikan ke dalam berbagai bentuk kesenian tari. Salah satunya adalah jaipongan, yang banyak berkembang di Jawa Barat bagian tengah. Sampai kesenian ini begitu popular dengan goyangannya. Asosiasi yang ada pada waktu itu adalah bahwa goyang karawang selalu rapat dengan kesenian tari dari Karawang. Bukan kesenian yang dekat dengan erotisme. Goyang karawang adalah interpretasi budaya dalam semangat pembangunan pasca Revolusi Kemerdekaan. Berkat penghiburannya, Karawang menjadi salah satu lumbung padi Pulau Jawa. Sedikit banyak kesenian ini merapat pada kultur agrarsi, seperti yang disampaikan di atas.
UNSUR MISTIS tidak bisa terlepas dari kesenian ini. Ada ritual dan persembahan yang terbagi atas beberapa bagian. Pertama persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kedua persembahan pada Karuhun atau leluhur. Ketiga persembahan pada arwah sekitar tempat pertunjukan. Persembahan ini diinterpretasikan dalam bentuk sesajen dan perlengkapannnya. Persembahan ini juga dituturkan dalam doa dan mantra khusus yang dirapalkan oleh Tetua Pertunjukan atau Pawang. Keahlian dan kemampuan ini bersifat khusus. Artinya tidak sembarang orang bisa melakukan. Ada keyakinan filosofis yang terkendung di dalam persembahan ini. Pertama Puja dan Puji Syukur ke Hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat sehat dan iman. Sehingga kesenian ini bisa bertahan dan dipagelarkan. Kedua adalah penghormatan pada arwah leluhur, karena berkat leluhurlah kesenian ini diwariskan sebagai wasilah atau perantaraan pewarisan semua unsurnya. Ketiga adalah penghormatan pada arwah setempat, karena pagelaran ini digelar di tempat terkait.
PENURUNAN PEMAKNAAN GOYANG KARAWANG
Saat ini asosiasi masyarakat terhadap istilah Goyang Karawang selalu bertendensi pada erotisme. Hal itu dimungkinkan mengingat begitu banyaknya praktik pertunjukkan seni hiburan yang banyak menonjolkan erotisme dan sensualitas berlebih. Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang digelar berupa konser music dangdut. Di mana di dalamnya sangat sarat akan pengadopsian gerakan-gerakan tarian jaipong atau banjet yang sudah sedemikian rupa dimodifikasi. Pada tataran ini unsur mistik dan ritual sudah tidak diindahkan. Bahkan sudah tidak menjadi prioritas. Tidak ada pakem khusus yang mengendalikan. Perpaduan antara seni pertunjukan modern dan tradisional begitu luar biasa. Tidak ada batasan antara pelaku seni dan penikmat seni. Semua terlibat dalam pertunjukan. Semua bebas mengekspresikan dirinya. Tidak jarang idiom-idiom “nakal” menjadi penyedap pertunjukan, yang banyak menjadi bagian dalam lirik lagu-lagu dangdut pop. Tidak cukup sampai di situ. Penyerapan unsur kesenian dandut modern juga terjadi pada kesenian jaipong. Saling pengaruh dan “memperkaya” ini menjadi kecenderungan yang tidak bisa dihindari dan tidak terpisahkan dalam kultur masyarakat kontemporer di Pesisir Utara Jawa Barat, terutama Karawang.
Kondisi di atas begitu dominan, sehingga menyita pemikiran masyarakat. Paradigma yang sudah terlanjur jungkir balik ini diperparah lagi dengan cara generasi muda Karawang dalam mengidentifikasi produk kebudayaan mereka. Sangat jarang pemuda Karawang dan sekitarnya yang bisa langsung menangkap maksud sesungguhnya dari istilah “Goyang karawang”. Bahkan mereka langsung mengidentikannya dengan pemahaman umum yang ada saat ini. Goyang Karawang adalah erotisme rendah dan sensualitas berlebih dari para pelaku seni di atas panggung pertunjukan. Goyang Karawang yang sesungguhnya, yaitu suatu semangat dan gairah pembangunan masyarakat kota melalui stimulus seni tradisional lokal yang dekat dan akrab dengan keseharian dan saling terkait dengan aspek sosial, budaya dan ekonomi lokal. Semua pemahaman dasar yang seharusnya diwariskan tersebut kini gagal diserap. Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa masyarakat Karawang khususnya atau Indonesia umumnya yang lalai terhadap akar budaya lokal.
Permasalahan tampaknya bagai bergulirnya bola salju yang terus membesar. Kini kelompok-kelompok pelaku seni tradisional lokal mengalami kondisi yang memprihatinkan. Paling tidak, itu yang dialami sebagian besar dari para pelaku kesenian tradisional Karawang. Penurunan intensitas pertunjukan dan berkurangnya minat masyarakat terhadap pertunjukan ini menjadi faktor utama. Selain itu sedikitnya kaderisasi menjadi masalah lainnya yang siap menerkam kesenian seperti Topeng Banjet. Kurang memikatnya kesenian ini di mata generasi penerus bisa jadi mempengaruhi pola pikir mereka. Bahkan tidak jarang muncul pertanyaan apakah masih relevan mempelajari kesenian ini, mengingat publikasi yang sangat sedikit dan manfaat yang sangat jarang. Dengan kata lain, sebenarnya para generasi penerus berada pada persilang pemikiran. Mereka bertanya, beri kami alas an untuk mempelajari kesenian tradisional.
Pemerintah Karawang jelas seharusnya mengambil peran strategis. Baik sebagai penyangga kesenian mapun penyandang kesenian. Penyangga, dalam hal ini adalah sebagai pihak yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan kesenian. Penyandang, dalam hal ini adalah penyedia fasilitas dan dana yang bisa memberi kemudahan dalam ruang gerak, akses dan aktivitas para pelaku seni. Pemerintah setempat juga seharusnya bisa memberikan pencerahan dan publikasi yang memadai tentang berbagai produk budaya local. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengidentifikasi budaya mereka. Masyarakat juga bisa mengakses informasi resmi dengan mudah. Sehingga semua berjalan secara simultan.
Masih belum lengkap kalau belum memasukkan seni hiburan modern. Unsur ini jelas banyak memberi sumbangan yang bagai pisau bermata dua. Publikasi yang luar biasa beberapa tahun ini tentang goyang karawang jelas membawa kesenian ini sebagai fenomena. Sebut saja film layar lebar ARWAH GOYANG KARAWANG. Cerita dalam film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesenian dan nilai-nilai luhur kebudayaan warisan leluhur Karawang. Sempat menjadi titik keresahan para pelaku seni Karawang, sehingga menimbulkan protes yang cukup serius. Tapi film ini tetap mengemuka dan masyarakat tetap menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan film horror-erotis. Belum lagi peranan kelompok-kelompok seni pertunjukan local yang turut membawa-bawa istilah Goyang Karawang dengan berbagai variasinya, juga turut memberi sumbangan atas penurunan pemaknaan.

Alhasil tentu saja penurunan pemaknaan terhadap istilah Goyang Karawang ini tidak bisa dihindarkan. Paling banter orang akan merapatkan Goyang Karawang dengan susuk, ritual sesajen dan aktivitas mistis yang tidak ada kaitannya dengan nilai luhur kesenian lokal sebagai produk budaya dan pemikiran nenek moyang.

SENJA KALA WAYANG LAMSIJAN INDRAMAYU


Berikut ini adalah artikel yang saya senaraikan dan saya kaji secara singkat tentang Senjakala Wayang Lamsijan atau juga dikenal sebagai Wayang Cepak. Karena masih baru saja disusun, mohon maaf apabila ada salah kata atau salah eja. After all, saya harap tulisan ini bisa menjadi cemilan pengetahuan kita bersama. Insya Allah. Amiin...

Ki Akhamadi adalah salah satu tokoh dalang wayang golek cepak Indramayu yang berumur 63 tahun. Ki Akhamadi merupakan generasi ke 5 penerus dalang wayang golek cepak, leluhurnya yaitu Ki Pugas, Ki Warya, Ki Koja, Ki Salam. Hingga saat ini Ki akhamadi masih aktif dalam berkesenian, walaupun dalam keseharian ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sebagai Imam masjid.

Wayang golek cepak yang selama ini menjadi alat berkesenian dan juga sebagai sumber kehidupannya, tampak mulai lesu di dalam kancah kebudayaan. Jika di ihat sekarang masyarakat lebih cenderung menampilkan bentuk-bentuk kesenian yang lain dalam konteks event. Sebut saja masyarakat lebih menyukai organ tunggal yang sifatnya lebih praktis dan modern ketimbang wayang golek cepak yang dalam pelaksanaanya lumayan repot, dikarenakan banyaknya alat atau nayaga. Nayaga adalah pemain gamelan pada sebuah pagelaran wayang golek cepak.

Karena lesunya minimnya perhatian dan apresiasi masyarakat terhadap pagelaran wayang golek cepak, Ki Akhamadi semakin terpuruk dalam mengisi beras di rumahnya. Sampai beliau terpaksa menjual beberapa tokoh wayang golek cepak asli yang dia punya, seperti tokoh wayang golek Hanoman, Naga, Garuda, Menak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun beliau tidak menjual seluruh wayang golek cepak yang asli (warisan dari nenek moyangnya), hanya beberapa saja. Beliau juga sempat menjual beberapa peti wayang golek cepak ke negara lain, diantaranya Belanda dan Jepang, tetapi itu pun bukan wayang golek asli melainkan duplikat, yang di pesan di Desa Gadingan, Indramayu. Dua wayang golek cepak dipegang oleh keponakan Ki Akhamadi. Kini wayang tersebut juga telah dijual.

Salah satu aset artikel yang sangat menarik, yakni naskah kuno tahun 1310 Hijriyah yang masih bisa terbaca, 1 peti wayang golek warisan turun temurun dan 1 peti wayang golek duplikat.

NASKAH KUNO WAYANG GOLEK CEPAK
Tahun 2009 lalu Ki Akhamadi jatuh sakit sampai beberapa bulan lamanya, beliau merasa panas, dingin disertai batuk-batuk. Karena sakit yang berkepanjangan dan perlu terus berobat terpaksa 1 set gamelan dijual seharga 15 juta ke sesama dalang yang ada di Indramayu. Walaupun begitu, Ki Akhamadi tetap menjalankan profesinya sebagai dalang jika beliau mendapatkan kesempatan untuk mendalangi sebuah pagelaran wayang golek cepak Indramayu. Beliau meminjam gamelan dan beberapa nayaga dari teman-teman dalang lainnya.

PELENGKAP DALAM PEWAYANGAN
Ki Akhamadi belum bisa menitiskan ilmu pewayangan wayang golek cepak . Sebabnya, bahwa hingga saat ini belum ada orang yang cocok untuk menerima ilmu pewayangannya. Dan alasan yang paling utama kenapa belum ada penerusnya, karena beliau sendiri tidak diberikan keturunan laki-laki.

BENDA ANTIK
Akmadi dan Warsad bukan hanya melestarikan kesenian tradisional, tetapi juga kolektor benda antik. Wayang golek cepak yang digunakan Akmadi diperkirakan berusia 150 tahun lebih. Sudah lima generasi keluarga Akmadi berprofesi dalang wayang golek cepak. Meski dalangnya berganti-ganti, wayang digunakan tetap dari peti kayu yang sama.

Wayang-wayang itu sebagian besar dibuat tahun 1800-an. Semuanya tertulis di sebuah buku dalam bentuk nyanyian. Bahkan, tercatat tanggal hingga hari pembuatannya. Catatan itu dulu disatukan bersama dengan buku-buku yang berisikan kisah-kisah yang biasa dipentaskan dalam pergelaran wayang golek cepak, dalam tulisan bahasa Jawa.

Sayangnya, semua bukti itu kebanyakan telah hilang dan lapuk termakan rayap karena buku catatannya tidak terpelihara dengan baik. Padahal, jika catatan tersebut bisa dikumpulkan, didata, kemudian dimuseumkan, bisa menjadi sumber informasi yang kaya nilai. ”Dulu tidak terpikir untuk menyalinnya. Saya hanya baca saja dan kurang hati-hati menyimpannya,” tambah Akmadi.

Cerita utama wayang golek cepak berasal dari kisah para menak (bangsawan) di Negeri Padang Pasir (Jazirah Arab) yang berkembang hingga ke Nusantara. Oleh sebab itu, wayang ini dulunya disebut wayang golek menak. Namun, karena bagian atas pada kepala wayang ini rata, yaitu tidak memiliki telekung, sehingga disebut papak atau cepak.

Kisah perjuangan Hamzah, salah satu paman paman Nabi Muhammad SAW, adalah menu utama cerita wayang golek cepak. Menu lainnya diambil dari babad Indramayu, babad Cirebon, sampai cerita mitos-mitos suatu daerah di pesisir pantai utara Jawa Barat. Umumnya, saat ini, wayang golek cepak hanya ditampilkan pada acara adat seperti ngunjung buyut. Meski unik dan antik, kesenian wayang golek cepak yang hanya ada di pesisir Indramayu-Cirebon ini terdepak pelan-pelan. Mungkin nanti, bukan hanya lamsijan yang pensiun dan pindah ke tangan kolektor, tetapi lakon menak dan panji ikutan berpindah pemilik.

KAJIAN SINGKAT
WAYANG LAMSIJAN adalah sebuah apresiasi kebudayaan Indonesia, khususnya Indramayu, Jawa Barat, terhadap keluhuran dan kebesaran Sejarah Islam dari masa Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah Rasulullah SAW. dan para Sahabat diadaptasikan dalam seni pertunjukan wayang. Akulturasi yang indah dan begitu halus terjadi pada dua kebudayaan yang berbeda. Kedua kebudayaan saling memperkaya dan saling melengkapi. Nilai-nilai ke-Islaman dan keteladanan yang luhur, bijaksana dan mulia yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para Sahabat diceritakan secara indah. Sehingga bisa diterima oleh masyarakat.

Pada masa lalu, masyarakat tidak memiliki banyak akses dalam menikmati hiburan. Keterbatasan teknologi, komunikasi dan transportasi menyebabkan masyarakat tidak memiliki banyak alternatif. Sehingga produk hiburan cenderung datang pada waktu tertentu. Misalkan ketika hajatan, hari besar, atau perayaan tertentu. Biasanya saat itu muncul saat ada pernikahan pejabat atau orang terpandang. Saat ada hari pasar, biasanya di satu tempat keberadaan pasar tidak hanya ada pedagang, tapi juga pelaku seni yang selalu mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan pertunjukan. Di saat seperti itulah masyarakat benar-benar bisa mendapatkan banyak hal. Biasanya di saat itulah terjadi transfer informasi antar kelompok masyarakat yang terpisah-pisah. Di saat itu juga masyarakat menikmati seni hiburan.

Sifat lain dari kebudayaan tradisional adalah tingginya nilai-nilai seni dan ajaran filosofis. Mereka yang mengembangkan dan mewarisi kesenian tradisional selalu menyisipkan nilai-nilai filosofis tinggi pada setiap bagian pertunjukan. Seperti pada pertunjukan Wayang Cepak atau Wayang Lamsijan, akan diisi oleh ajaran-ajaran tinggi akan nilai-nilai keislaman. Sehingga kebudayaan yang tinggi ini tetap memberi kesan positif dan ajaran luhur kepada mereka yang menyaksikannya. Maka kesenian ini tetap bertahan. Meskipun tidak dapat dipungkiri, bahwa kesenian tradisional Nusantara, di mana-mana mulai tergerus. Bahkan banyak yang dalam kondisi kritis dan rawan untuk punah. Tapi nilai-nilai itu tetap akan ada.

Terkait akan keseluruhan bangunan pelestarian kesenian daerah, maka para pelaku seni ini tetap bertahan juga untuk terus berkecimpung di dunia seni. Ada yang didorong oleh faktor keturunan. Artinya darah seni dari ayah atau kakek atau kakeknya kakek, sudah mengalir dan dengan begitu menjadi tanggung jawab yang bersangkutan untuk terus melestarikan dan mewarisinya pada generasi berikutnya. Ada yang memang sengaja mempelajarinya dan memilih untuk berkecimpung untuk sebuah kepuasan idealis. Sehingga menjadi kebijaksanaan tersendiri bagi pribadi seperti ini untuk menerima kenyataan kalau hidupnya harus total mengabdi pada seni. Fenomena seperti ini sudah sangat jarang terjadi. Ada juga pribadi yang berkecimpung karena hobi dan karena dorongan matapencaharian. Tidak dapat dipungkiri kalau beberapa kesenian tradisional masih begitu banyak diminati oleh masyarakat untuk ditanggap dan dipertunjukkan pada berbagai acara. Faktor ini mendorong adanya pekerja seni. Para pekerja seni ini mendapat apresiasi dalam bentuk hasil uang. Ironisnya, belakangan ini tidak sedikit para pekerja seni yang mulai bekerja sampingan. Artinya menggantungkan hidup sepenuhnya pada pertunjukan bukanlah jalan yang bijaksana, karena hasil konkritnya sangat kurang untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Sebuah keputusan yang sangat menyedihkan bagi dunia kesenian tradisional apabila ada dalang yang menjual wayangnya karena keterhimpitan ekonomi.

Terlepas dari semua itu, mitos dan legenda masih begitu kental mewarnai berbagai seni pertunjukan tradisional. Semua itu tidak terlepas dari usaha untuk terus melestarikan dan menjadikan kesenian tradisional itu tetap sakral. Kesakralan itu ada atas dasar tingginya ajaran dan nilai luhur yang bisa ditransfer dari pertunjukan seni tersebut. Hanya saja, proses pembelajaran dirasakan sangat kurang pada generasi saat ini. Ditambah kesadaran para orang tua masih sangat minim untuk menurunkan barang sedikit saja ajaran-ajaran leluhur tersebut. Terlebih, tidak dapat dipungkiri juga, bahwa derasnya arus penyerapan teknologi, komunikasi dan informasi memakan sangat besar perhatian dan titik berat orientasi hidup saat ini, baik di kalangan generasi muda atau orang tua. Maka napas seni tradisional kini tinggal beberapa jeda saja, kalau tidak ada pihak atau insan yang bersedia mau berbesar hati menerima kekayaan kebudayaan nenek moyang dan menurunkannya pada generasi selanjutnya.


Tidak bisa dipungkiri juga, kesadaran untuk menjaga bukti otentik wujud pertunjukan seni tradisional masih sangat minim. Di sinilah diperlukan pengetahuan dan kesadaran agar setiap mereka yang memegang tanggung jawab langsung atas bukti-bukti itu wajib menjaganya. Setali tiga uang dengan faktor tersebut, kembali lagi pada masyarakat. Daya dukung masyarakat terhadap kelompok ‘pemegang pusaka’ ini diraskan masih fluktuatif. Masyarakat biasanya akan tergerak apabila ada perayaan atau upacara. Apabila tidak ada simbolilasai perayaan, maka tidak ada aksi bersama untuk menjaganya. Sebut saja perayaan malam satu suro misalnya, semua itu turut menggerakkan paresiasi masyarakat terhadap wujud pusaka masyarakat Jawa. Sehingga secara tidak disadari telah timbul opini bahwa sudah menjadi gerakan bersama untuk terus melestarikan perayaannya. Sebenarnya bukan perayaannya, tapi bagaimana mengarahkan opini dan paradigma berpikir untuk ikut memikul tanggung jawab dalam menjaga kebudayaan. Sebagai penerima tongkat estafet di ujung zaman kegemilangan teknologi dan budaya luar yang deras mengalir ke Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk menjawab tuntutan leluhur kita : bagaimana lagi cara untuk menjaga wujud kebudayaan Nusantara.